Mahasiswa Malaysia yang kuliah di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau dievakuasi pemerintah Malaysia melalui Konsulat Malaysia di Pekanbaru, Jumat (18/9/2015).
Evakuasi ini dilakukan setelah selama hampir satu bulan asap menyelimuti Kota Pekanbaru dan seluruh daerah di Provinsi Riau. Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya mengatakan, ada beberapa perusahan perkebunan milik Malaysia dan Singapuran terbukti lahan konsesi mereka dibakar.
Pihak Konsulat Malaysia membenarkan hal tersebut. "Benar ada evakuasi mahasiswa Malaysia jumlahnya saya belum tahu pasti, namun ratusan orang lah," tutur Antoni, staf konsulat.
Mereka akan diangkut kembali ke Malaysia menggunakan pesawat militer direncanakan Hercukes. Proses perizinan sedang dilakukan Atase militer Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta guna mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru.
Dari informasi yang kami himpun di lapangan, setidaknya ada 120 warga Malaysia akan dievakuasi dengan pesawat Hercules rute Subang-Pekanbaru-Subang. Para warga Malaysia itu akan berangkat dari VIP Room Lancang Kuning Bandara Sultan Syarif Kasim.
Sebanyak 44 mahasiswa kedokteran yang sedang menjalani pelatihan klinis di daerah luar Kota Jambi telah diungsikan ke Asrama Haji di Padang dan memperoleh dispensasi selama lima hari dari universitas,” kata Juzhar Jusoh dikutip dari Tribun Pekanbaru.
Selain mengevakuasi mahasiswa Malaysia yang berkuliah di UIN Suska, Negeri Jiran tersebut juga mengungsikan 103 mahasiswa di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Saifuddin, Jambi dan 58 mahasiswa lainnya di Universitas Sriwijaya dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Intan Lampung.
Juzhar menjelaskan, Dewan Keamanan Nasional Malaysia sedang mengupayakan membantu mengevakuasi mahasiswa Malaysia ke tempat lebih aman.
Ia mengatakan, kondisi asap di tiga provinsi di Sumatera tersebut sebenarnya tidak sehat, bahkan Berbahaya sejak tiga pekan lalu. Namun, EM mengalami kendala memindahkan mereka, karena perkuliahan masih berlangsung seperti biasa dan universitas menolak memberi libur.
Sebagai langkah awal, tuturnya, EM melalui Persatuan Kebangsaan Pelajar Malaysia di Indonesia telah mendistribusikan masker dan obat air mata ke seluruh mahasiswa Malaysia sejak tiga minggu itu.
Sejak asap mulai mengganas dengan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) mencapai 400, mahasiswi asal Malaysia mengeluhkan sakit dan batuk selain mulai berkurangnya pasokan air bersih akibat kemarau.
“Karena Otoritas Lokal masih tidak menyatakan darurat di daerah bencana, manajemen universitas tidak memberi keringanan kepada mahasiswa untuk liburan. Akan tetapi kita terus membuat permohonan libur untuk mahasiswa Malaysia karena banyak di antara mereka telah sakit,” katanya.
Ayman, salah seorang mahasiswa Malaysia yang kuliah di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengatakan tindakan yang dilakukan pemerintahnya sudah tepat. Ia juga menyesalkan lambannya pemerintah Indonesia dalam menangani persoalan ini. “Pemerintah Indonesia macam tak peduli,” katanya saat kami hubungi melalui telepon genggam, Jumat (16-10-2015). Saat itu ia sedang ada pertemuan di Medan bersama mahasiswa Malaysia lainnya.
Kedutaan Malaysia sudah menyurati Riau terkait evakuasi mahasiswanya untuk batas waktu yang tidak ditentukan. Namun dosen-dosen tak mau tahu soal itu. Tidak ada dispensasi diberikan. Noralinda, Kepala Bagian Kemahasiswaan UIN Suska Riau mengatakan, pihak UIN Suska tidak memberikan dispensasi untuk mahasiswa luar negeri yang tidak masuk kuliah karena proses perkuliahan tetap berlanjut seperti biasa. Soal dispensasi sepenuhnya menjadi urusan dosen. “ Tergantung dosennya,” katanya.
Ayman berharap pemerintah daerah Riau berkomitmen keras untuk mencegah bencana tahunan ini agar tidak terualang kembali. Persoalan kabut asap ini sangat berpengaruh terhadap efektivitas perkuliahan. Apalagi mahasiswa luar negeri yang terpaksa dievakuasi negara asalnyan demi kesehatan. Nilai mereka terancam anjlok karena tingginya angka ketidakhadiran kuliah. Ayman menambahkan, karena kabut asap ini empat orang mahasiswa baru Malaysia yang kuliah di UIN Suska memutuskan berhenti karena sudah absen kuliah lebih dari sebulan.
Dosen UIN Suska Riau, Azar berpendapat tindakan pemerintah Malaysia mengevakuasi Mahasiswanya merupakan kebijakan suatu negara yang bersifat sepihak. Menurutnya pihak UIN Suska tidak perlu ikut meliburkan mahasiswanya untuk batas waktu yang tidak ditentukan seperti halnya Malaysia. “Kita kan di bawah Kemenag,” katanya.
Indonesia telah menyatakan Provinsi Riau sebagai daerah Darurat setelah kondisi kabut di wilayah tersebut dilaporkan berada pada tingkat sangat berbahaya.





