Kian hari kualitas udara di Provinsi Riau terus memburuk. Asap tebal menyelimuti semua kabupaten di Riau. Bahkan Kabut asap membuat jarak pandang turun hingga 100 meter saja. Sejak sepekan terakhir Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) berada di level berbahaya. Sesekali naik pada level Sangat Berbahaya. Kualitas udara berbaya bagi warga.
Jumlah penderita infeksi saluran pernapasan akut terus meningkat. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Riau, jumlah warga yang menderita infeksi saluran pernafasan mencapai 70.300 orang. Seharusnya para warga sudah dievakuasi. Namun pemerintah terkendala dana untuk mengevakuasi warganya.
Kabut asap yang disebabkan
kebakaran lahan dan hutan tersebut semakin pekat. Pemerintah Provinsi
Riau mengimbau warga untuk menggunakan masker terkait kualitas udara
yang memburuk.
Secara swadaya, warga mengungsikan kerabat dan keluarga yang tergolong ibu hamil, bayi, balita, dan orang sakit. Sebagian besar menggunakan jalan darat untuk evakuasi.
Pasalnya, sejumlah penerbangan distop sementara. Jika kabut asap makin pekat, bukan tak mungkin penghentian penerbangan ini diperpanjang. Sementara itu, warga tak bisa beraktivitas dengan leluasa. Mereka harus mengenakan masker. Dalam serbuan asap yang sudah berlangsung sekitar tiga bulan dan kondisi tak kunjung membaik, warga harus mengambil keputusan. Mengungsi atau pasrah.
"Seharunya dengan kondisi udara yang separah ini kita sudah mengungsi," ujar Alimudin, salah seorang dosen di UIN Suska Riau.
Secara swadaya, warga mengungsikan kerabat dan keluarga yang tergolong ibu hamil, bayi, balita, dan orang sakit. Sebagian besar menggunakan jalan darat untuk evakuasi.
Pasalnya, sejumlah penerbangan distop sementara. Jika kabut asap makin pekat, bukan tak mungkin penghentian penerbangan ini diperpanjang. Sementara itu, warga tak bisa beraktivitas dengan leluasa. Mereka harus mengenakan masker. Dalam serbuan asap yang sudah berlangsung sekitar tiga bulan dan kondisi tak kunjung membaik, warga harus mengambil keputusan. Mengungsi atau pasrah.
"Seharunya dengan kondisi udara yang separah ini kita sudah mengungsi," ujar Alimudin, salah seorang dosen di UIN Suska Riau.
Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru
menyatakan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti
wilayah Riau makin tebal dalam sepekan hari terakhir. Dari hasil pantauan BMKG asap tersebut sebagian besar kiriman dari provinsi tetangga. Namun pemerintah tetap siaga mengantisipasi munculnya titik-titik
panas yang berpotensi menimbulkan kebakaran hutan dan lahan.
"Saat ini kabut asap yang terpantau semakin tebal, akibatnya sejumlah daerah seperti Kota Pekanbaru dan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, jarak pandang hanya 100 meter," kata Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru Sugarin.
Dikutip dari web berita CNN Indonesia, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan jumlah titik api tersebut didapat dari pantauan satelit Terra-Aqua.
"Titik api di Sumatera tersebar di Bengkulu tujuh titik, Jambi 87 titik, Bangka Belitung 64 titik, Kepulauan Riau satu titik, Lampung 38 titik, Riau 22 titik, Sumatera Utara tiga titik, dan Sumatera Selatan 537 titik," ujar Sutopo seperti dikutip dari keterangan persnya, Jumat (16/10).
Pemerintah akhirnya menetapkan status darurat asap di Provinsi Riau, Senin (14/9). Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di ibu kota Riau, Pekanbaru, menyentuh angka 984. Angka itu bahkan di atas level tertinggi ISPU, yakni berbahaya, yang berada di kisaran 300-500.
“Pagi tadi saya sudah berbicara dengan Gubernur dan jajaran Muspida (Musyawarah Pimpinan Daerah) Riau. Hari ini Provinsi Riau dinyatakan darurat asap. Gubernur Riau sudah membuka posko-posko kesehatan di tengah masyarakat,” kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar dalam keterangan tertulis yang diterima media.
Upaya penegakan hukum juga dijalankan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan. Sejak awal tahun hingga September 2015, Kepolisian Daerah Riau telah menetapkan 58 tersangka pembakar lahan dan saat ini ada 17 korporasi yang diselidiki keterlibatannya dalam pembakaran lahan.
"Saat ini kabut asap yang terpantau semakin tebal, akibatnya sejumlah daerah seperti Kota Pekanbaru dan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, jarak pandang hanya 100 meter," kata Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru Sugarin.
![]() |
| Petugas sedang memadamkan api di lahan gambut |
Dikutip dari web berita CNN Indonesia, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan jumlah titik api tersebut didapat dari pantauan satelit Terra-Aqua.
"Titik api di Sumatera tersebar di Bengkulu tujuh titik, Jambi 87 titik, Bangka Belitung 64 titik, Kepulauan Riau satu titik, Lampung 38 titik, Riau 22 titik, Sumatera Utara tiga titik, dan Sumatera Selatan 537 titik," ujar Sutopo seperti dikutip dari keterangan persnya, Jumat (16/10).
Pemerintah akhirnya menetapkan status darurat asap di Provinsi Riau, Senin (14/9). Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di ibu kota Riau, Pekanbaru, menyentuh angka 984. Angka itu bahkan di atas level tertinggi ISPU, yakni berbahaya, yang berada di kisaran 300-500.
“Pagi tadi saya sudah berbicara dengan Gubernur dan jajaran Muspida (Musyawarah Pimpinan Daerah) Riau. Hari ini Provinsi Riau dinyatakan darurat asap. Gubernur Riau sudah membuka posko-posko kesehatan di tengah masyarakat,” kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar dalam keterangan tertulis yang diterima media.
![]() |
| Mahasiswa terus mendesak pemerintah bertindak cepat menyelesaikan bencana asap |
Upaya penegakan hukum juga dijalankan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan. Sejak awal tahun hingga September 2015, Kepolisian Daerah Riau telah menetapkan 58 tersangka pembakar lahan dan saat ini ada 17 korporasi yang diselidiki keterlibatannya dalam pembakaran lahan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar