Breaking News

Jumat, 30 Oktober 2015

Minat Mahasiswa Asing Kuliah di Riau Menurun Karena Asap


Pekanbaru dan Bogor adalah dua kota yang letaknya bejauhan namun memiliki satu panorama yang sama. Sama-sama diselimuti kabut yang menjadikan dua kota ini tampak alami dan sejuk di siang hari seperti atmosfir khas pegunungan.

Namun jangan salah. Tingkat kesegaran udara dua kota ini jauh berbeda. Jika sebagian besar wilayah Bogor diselimuti kabut embun dengan udara segar dan sejuk, namun lain halnya dengan Pekanbaru. Udara yang di hirup warga Pekanbaru bisa mengancam kesehatan bahkan nyawa.

Sudah 18 tahun warga kota bertuah dan kabupaten lain di Riau diselimuti kabut asap yang bikin sesak bernafas. Kabut asap yang melanda Riau tahun ini adalah terparah melanda Riau selama 18 tahun terakhir. Kota-kota di Riau nyaris tenggelam ditelan kabut asap pekat. Selama dua pekan belakangan kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan semakin menjadi-jadi. Tak sedikit warga tererang sakit pernapasan dan beberapa orang dikabarkan meninggal karena menghirup asap.

Hal itulah yang membuat pemerintah Malaysia bertindak cepat mengevakuasi warganya yang belajar di Pekanbaru untuk dipulangkan. Sebelum asap berbahaya menyebabkan warga Malaysia menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA. 18 September lalu, melalui konsulatnya, Malaysia terpaksa memulangkan sebanyak 173 mahasiswanya di Riau karena kabut asap.

Pemulangan dilakukan dengan pesawat militer milik negeri jiran tersebut karena pendeknya jarang pandang tidak memungkinkan pesawat komersil untuk terbang . “Setelah melihat tak ada perubahan asap di Pekanbaru, mereka memilih pulang. Negara memfasilitasnya,” ungkap Hardi Hamdi seperti dilansir Liputan6.com.

Ayman, salah seorang mahasiswa Malaysia yang kuliah di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengatakan tindakan yang dilakukan pemerintahnya sudah tepat. Ia juga menyesalkan lambannya pemerintah Indonesia dalam menangani persoalan ini. “Pemerintah Indonesia macam tak peduli,” katanya saat kami hubungi melalui telepon genggam, Jumat (16-10-2015). Saat itu ia sedang ada pertemuan di Medan bersama mahasiswa Malaysia lainnya.

Ayman bercerita, ketika masih berada di Riau saat kabut asap sedang pekat-pekatnya, dirinya  ikut terkena dampak kabut asap. Ia lebih banyak tunak di dalam rumah menghindari asap. “Sesak napas. Teruk sangat,” katanya. Ia bersyukur ada inisiatif dari pemerintah negaranya untuk mengevakuasi warga Malaysia yang berada di Riau. “Walaupun Malaysia juga terkena asapnya tapi Malaysia sudah cepat mengambil keputusan yaitu dengan meliburkan sekolah,” katanya.

Pihak UIN Suska Riau sebenarnya sudah mengirim surat edaran berisi instruksi libur kuliah ke seluruh sivitas akademika selama tiga hari terkait kabut asap yang makin pekat. Sedangkan mahasiswa asal Malaysia dievakuasi hingga asap enyah dari bumi Lancang Kuning ini. Hal ini membuat Ayman dan mahasiswa Malaysia lainnya khawatir dengan studi mereka karena tidak bisa mengikuti perkuliahan. “Pemerintah Malaysia dan orangtua tak beri kami datang ke Indonesia. Mereka khawatir dengan kesehatan kami jika tetap lanjutkan kuliah di Riau,” keluhnya.

Kedutaan Malaysia sudah menyurati Riau terkait evakuasi mahasiswanya untuk batas  waktu yang tidak ditentukan. Namun dosen-dosen tak mau tahu soal itu. Tidak ada dispensasi diberikan. Noralinda, Kepala Bagian Kemahasiswaan UIN Suska Riau mengatakan, pihak UIN Suska tidak memberikan dispensasi untuk mahasiswa luar negeri yang tidak masuk kuliah karena proses perkuliahan tetap berlanjut seperti biasa. Soal dispensasi sepenuhnya menjadi urusan dosen. “ Tergantung dosennya,” katanya.
Ayman berharap pemerintah daerah Riau berkomitmen keras untuk mencegah bencana tahunan ini agar tidak terualang kembali. Persoalan kabut asap ini sangat berpengaruh terhadap efektivitas perkuliahan. Apalagi mahasiswa luar negeri yang terpaksa dievakuasi negara asalnyan demi kesehatan. Nilai mereka terancam anjlok karena tingginya angka ketidakhadiran kuliah. Ayman menambahkan, karena kabut asap ini empat orang mahasiswa  baru Malaysia yang kuliah di UIN Suska memutuskan berhenti karena sudah absen kuliah lebih dari sebulan.
Dosen UIN Suska Riau, Azar berpendapat tindakan pemerintah Malaysia mengevakuasi Mahasiswanya merupakan kebijakan suatu negara yang bersifat sepihak. Menurutnya pihak UIN Suska tidak perlu ikut meliburkan mahasiswanya untuk batas waktu yang tidak ditentukan seperti halnya Malaysia. “Kita kan di bawah Kemenag,” katanya.

Selanjutnya ia mengatakan, soal dispensasi mahasiswa luar negeri yang absen kuliah seharusnya memang menjadi wewenang dosen. Namun ia menilai kondisi ini akan berdampak terhadap minat masyarakat luar negeri untuk kuliah di Riau. Ia mengatakan jika masalah klasik ini belum juga dapat dicarikan solusinya oleh Pemerintah provinsi Riau, minat masyarakat luar negeri kuliah di Riau akan berkurang.

Tak hanya mahasiswa luar negeri yang mengeluh soal kabut asap ini. Mahasiswa daerah lain yang kuliah di UIN Suska Riau juga terkena imbasnya.  Mela Apriyani, mahasiswa UIN Suska Riau asal Sumatra Barat mengaku sempat terserang sesak nafas karena terhirup asap. Namun demikian ia tetap masuk kuliah seperti biasa karena kampus memang tidak mengeluarkan instruksi libur panjang. Pihak rektorat UIN Suska hanya meliburkan perkuliahan jika asap terlalu pekat “Sebenarnya saya khawatir karena sering libur. Akibatnya pelajaran yang seharusnya sudah selesai jadi tertunda. Sehingga kami mesti menambah jam tambahan,” ujarnya.

Mukhlis, mahasiswa UIN Suska asal Sumatra Utara juga merasa tidak nyaman menjalani perkuliahan karena terkendala asap. Namun ia tidak memilih balik kampung karena perkuliahan masih berjalan seperti biasa. “Lagipula sudah biasa menghirup asap,” ujarnya.

Semua kalangan berharap pemerintah Provinsi Riau bersikap tegas menindak pelaku pembakar hutan dan lahan di Riau. Pemerintah pusat juga harus lebih memperhatikan permasalahan tahunan ini agar tidak terulang kembali. Dan yang terpenting harus diberikan hukuman yang memberi efek jera terhadap pelaku pembakar lahan. Regulasi yang ada perlu direvisi dengan melibatkan banyak pihak. Karena ini menyangkut soal harapan hidup masyarakat Riau. Jangan biarkan masyarakat Riau mati massal di kemudian hari karena ulah oknum-oknum zolim yang memperkaya diri sendiri dan kelompok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By : Kelompok II