Breaking News

Sabtu, 31 Oktober 2015

Asap Makin Tebal, Mahasiswa Malaysia Dievakuasi


Mahasiswa Malaysia yang kuliah di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau dievakuasi pemerintah Malaysia melalui Konsulat Malaysia di Pekanbaru, Jumat (18/9/2015).

Evakuasi ini dilakukan setelah selama hampir satu bulan asap menyelimuti Kota Pekanbaru dan seluruh daerah di Provinsi Riau. Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya mengatakan, ada beberapa perusahan perkebunan milik Malaysia dan Singapuran terbukti lahan konsesi mereka dibakar.

Pihak Konsulat Malaysia membenarkan hal tersebut. "Benar ada evakuasi mahasiswa Malaysia jumlahnya saya belum tahu pasti, namun ratusan orang lah," tutur Antoni, staf konsulat.

Mereka akan diangkut kembali ke Malaysia menggunakan pesawat militer direncanakan Hercukes. Proses perizinan sedang dilakukan Atase militer Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta guna mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru.

Dari informasi yang kami himpun di lapangan, setidaknya ada 120 warga Malaysia akan dievakuasi dengan pesawat Hercules rute Subang-Pekanbaru-Subang. Para warga Malaysia itu akan berangkat dari VIP Room Lancang Kuning Bandara Sultan Syarif Kasim.

Sebanyak 44 mahasiswa kedokteran yang sedang menjalani pelatihan klinis di daerah luar Kota Jambi telah diungsikan ke Asrama Haji di Padang dan memperoleh dispensasi selama lima hari dari universitas,” kata Juzhar Jusoh dikutip dari Tribun Pekanbaru.



Selain mengevakuasi mahasiswa Malaysia yang berkuliah di UIN Suska, Negeri Jiran tersebut juga mengungsikan 103 mahasiswa di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Saifuddin, Jambi dan 58 mahasiswa lainnya di Universitas Sriwijaya dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Intan Lampung.


Juzhar menjelaskan, Dewan Keamanan Nasional Malaysia sedang mengupayakan membantu mengevakuasi mahasiswa Malaysia ke tempat lebih aman.



Ia mengatakan, kondisi asap di tiga provinsi di Sumatera tersebut sebenarnya tidak sehat, bahkan Berbahaya sejak tiga pekan lalu. Namun, EM mengalami kendala memindahkan mereka, karena perkuliahan masih berlangsung seperti biasa dan universitas menolak memberi libur.


Sebagai langkah awal, tuturnya, EM melalui Persatuan Kebangsaan Pelajar Malaysia di Indonesia telah mendistribusikan masker dan obat air mata ke seluruh mahasiswa Malaysia sejak tiga minggu itu.



Sejak asap mulai mengganas dengan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) mencapai 400, mahasiswi asal Malaysia mengeluhkan sakit dan batuk selain mulai berkurangnya pasokan air bersih akibat kemarau.


“Karena Otoritas Lokal masih tidak menyatakan darurat di daerah bencana, manajemen universitas tidak memberi keringanan kepada mahasiswa untuk liburan. Akan tetapi kita terus membuat permohonan libur untuk mahasiswa Malaysia karena banyak di antara mereka telah sakit,” katanya.

Ayman, salah seorang mahasiswa Malaysia yang kuliah di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengatakan tindakan yang dilakukan pemerintahnya sudah tepat. Ia juga menyesalkan lambannya pemerintah Indonesia dalam menangani persoalan ini. “Pemerintah Indonesia macam tak peduli,” katanya saat kami hubungi melalui telepon genggam, Jumat (16-10-2015). Saat itu ia sedang ada pertemuan di Medan bersama mahasiswa Malaysia lainnya.

 Kedutaan Malaysia sudah menyurati Riau terkait evakuasi mahasiswanya untuk batas  waktu yang tidak ditentukan. Namun dosen-dosen tak mau tahu soal itu. Tidak ada dispensasi diberikan. Noralinda, Kepala Bagian Kemahasiswaan UIN Suska Riau mengatakan, pihak UIN Suska tidak memberikan dispensasi untuk mahasiswa luar negeri yang tidak masuk kuliah karena proses perkuliahan tetap berlanjut seperti biasa. Soal dispensasi sepenuhnya menjadi urusan dosen. “ Tergantung dosennya,” katanya.

Ayman berharap pemerintah daerah Riau berkomitmen keras untuk mencegah bencana tahunan ini agar tidak terualang kembali. Persoalan kabut asap ini sangat berpengaruh terhadap efektivitas perkuliahan. Apalagi mahasiswa luar negeri yang terpaksa dievakuasi negara asalnyan demi kesehatan. Nilai mereka terancam anjlok karena tingginya angka ketidakhadiran kuliah. Ayman menambahkan, karena kabut asap ini empat orang mahasiswa  baru Malaysia yang kuliah di UIN Suska memutuskan berhenti karena sudah absen kuliah lebih dari sebulan.

Dosen UIN Suska Riau, Azar berpendapat tindakan pemerintah Malaysia mengevakuasi Mahasiswanya merupakan kebijakan suatu negara yang bersifat sepihak. Menurutnya pihak UIN Suska tidak perlu ikut meliburkan mahasiswanya untuk batas waktu yang tidak ditentukan seperti halnya Malaysia. “Kita kan di bawah Kemenag,” katanya.

Indonesia telah menyatakan Provinsi Riau sebagai daerah Darurat setelah kondisi kabut di wilayah tersebut dilaporkan berada pada tingkat sangat berbahaya.
Read more ...

Stop Buat Asap !

Kabut asap kembali menyelimuti Riau dan beberapa daerah lainnya di Indonesia. Sudah ribuan masyarakat terkena penyakit pernafasan akibat terhirup udara yang bercampur asap berbahaya dari dampak Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut (Karhutla). Belum lagi kerugian ekonomi yang diderita serta terbatasnya pekerjaan masyarakat akibat bencana tahunan ini.
Sejumlah gubernur telah menyatakan bahwa daerahnya berstatus Darurat Kabut Asap. Para Mentri Negara bahkan melakukan rapat khusus tentang ini. Presiden Jokowi bahkan harus terjun kedalam titik hotspot untuk meninjau parahnya kabut asap di republik ini. Bencana ini benar-benar menyita perhatian berbagai elemen Negara.
Berkaca dari kedatangan Presiden sebelumnya Susilo Bambang Yudhoyono. Tindakan terjun kedaerah dan melakukan penanganan jangka pendek terkesan sia-sia. Kabut asap akan kembali bertamu jika tidak ada tindakan jangka panjang dari pemerintah dan perbaikan mental masyarakat. Kabut asap akibat Karhutla bukan hanya bencana alami akibat musim kemarau dan suhu yang tinggi karena EL Nino. Bencana ini tidak lepas dari ulah manusia dan pengelolaan hutan yang salah dari pemerintah pusat dan daerah.
Laju pengeringan dan alih fungsi lahan basah perlu dibendung untuk mencegah tingginya jumlah Karhutla ketika musim kemarau.. Perlu aturan khusus untuk mengatasi hal ini. Tak cukup aturan, ketegasan dalam penerapan juga sangat penting untuk menjaga ekosistem lahan basah.
Berdasarkan temuan Greenpeace, kebakaran lahan sebagian besar terjadi pada lahan gambut yang tidak dikelilingi hutan disekitarnya. Artinya lahan gambut yang terbakar adalah lahan sisa dari hutan yang telah digunduli. Dengan begitu, lahan gambut di luar hutan lebih rentan terbakar dibanding lahan gambut di dalam hutan.
Tanggap penanganan bencana kabut asap dinilai memang  perlu dilakukan. Namun berapa banyak lagi anggaran yang dikucurkan setiap tahun hanya untuk menagani Karhutla. Bukan hanya itu, semakin besarnya laju transmigrasi dan alih fungsi lahan oleh masyarakat dan perusahaan dapat membuat bencana ini semakin parah dari tahun ke tahun. Sama dengan bencana alam lainnya, pemerintah dan masyarakat cukup aktif melakukan penanganan, namun sangat buruk dalam tindakan pencegahan.
Tak hanya menindak pelaku pembakar lahan,  pembukaan hutan dan lahan untuk perkebunan dan pertanian perlu diatur dengan baik oleh pemerintah. Alih fungsi hutan dan lahan menjadi ancaman jangka panjang jika tidak mendapatkan penanganan khusus. Perbaikan mental pejabat daerah dan kepedulian masyarakat perlu ditingkatkan untuk menyeimbangkan pembangunan yang ramah terhadap kelestarian hutan. Jangan ada lagi pejabat yang mencoba main mata melakukan alih fungsi lahan untuk memperkaya diri. Dan jangan ada lagi rakyat yang tertangkap membakar lahan karena mencari sesuap nasi.
Ubah teriakan stop kabut asap menjadi stop buat asap. 
Read more ...

Asap Makin Parah, Tak Pasti Kapan Berakhir


Kian hari kualitas udara di Provinsi Riau terus memburuk. Asap tebal menyelimuti semua kabupaten di Riau. Bahkan Kabut asap membuat jarak pandang turun hingga 100 meter saja. Sejak sepekan terakhir Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) berada di level berbahaya. Sesekali naik pada level Sangat Berbahaya. Kualitas udara berbaya bagi warga.

Jumlah penderita infeksi saluran pernapasan akut terus meningkat. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Riau, jumlah warga yang menderita infeksi saluran pernafasan mencapai 70.300 orang. Seharusnya para warga sudah dievakuasi. Namun pemerintah terkendala dana untuk mengevakuasi warganya.
Kabut asap yang disebabkan kebakaran lahan dan hutan tersebut semakin pekat. Pemerintah Provinsi Riau mengimbau warga untuk menggunakan masker terkait kualitas udara yang memburuk.
Secara swadaya, warga mengungsikan kerabat dan keluarga yang tergolong ibu hamil, bayi, balita, dan orang sakit. Sebagian besar menggunakan jalan darat untuk evakuasi.

Pasalnya, sejumlah penerbangan distop sementara. Jika kabut asap makin pekat, bukan tak mungkin penghentian penerbangan ini diperpanjang. Sementara itu, warga tak bisa beraktivitas dengan leluasa. Mereka harus mengenakan masker. Dalam serbuan asap yang sudah berlangsung sekitar tiga bulan dan kondisi tak kunjung membaik, warga harus mengambil keputusan. Mengungsi atau pasrah.

"Seharunya dengan kondisi udara yang separah ini kita sudah mengungsi," ujar Alimudin, salah seorang dosen di UIN Suska Riau.

Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menyatakan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti wilayah Riau makin tebal dalam sepekan hari terakhir. Dari hasil pantauan BMKG asap tersebut sebagian besar kiriman dari provinsi tetangga. Namun pemerintah tetap siaga mengantisipasi munculnya titik-titik panas yang berpotensi menimbulkan kebakaran hutan dan lahan.

"Saat ini kabut asap yang terpantau semakin tebal, akibatnya sejumlah daerah seperti Kota Pekanbaru dan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, jarak pandang hanya 100 meter," kata Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru Sugarin.
Petugas sedang memadamkan api di lahan gambut

Dikutip dari web berita CNN Indonesia, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan jumlah titik api tersebut didapat dari pantauan satelit Terra-Aqua.

"Titik api di Sumatera tersebar di Bengkulu tujuh titik, Jambi 87 titik, Bangka Belitung 64 titik, Kepulauan Riau satu titik, Lampung 38 titik, Riau 22 titik, Sumatera Utara tiga titik, dan Sumatera Selatan 537 titik," ujar Sutopo seperti dikutip dari keterangan persnya, Jumat (16/10).

Pemerintah akhirnya menetapkan status darurat asap di Provinsi Riau, Senin (14/9). Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di ibu kota Riau, Pekanbaru, menyentuh angka 984. Angka itu bahkan di atas level tertinggi ISPU, yakni berbahaya, yang berada di kisaran 300-500.

“Pagi tadi saya sudah berbicara dengan Gubernur dan jajaran Muspida (Musyawarah Pimpinan Daerah) Riau. Hari ini Provinsi Riau dinyatakan darurat asap. Gubernur Riau sudah membuka posko-posko kesehatan di tengah masyarakat,” kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar dalam keterangan tertulis yang diterima media.
Mahasiswa terus mendesak pemerintah bertindak cepat menyelesaikan bencana asap

Upaya penegakan hukum juga dijalankan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan. Sejak awal tahun hingga September 2015, Kepolisian Daerah Riau telah menetapkan 58 tersangka pembakar lahan dan saat ini ada 17 korporasi yang diselidiki keterlibatannya dalam pembakaran lahan.


Read more ...

Jumat, 30 Oktober 2015

Minat Mahasiswa Asing Kuliah di Riau Menurun Karena Asap


Pekanbaru dan Bogor adalah dua kota yang letaknya bejauhan namun memiliki satu panorama yang sama. Sama-sama diselimuti kabut yang menjadikan dua kota ini tampak alami dan sejuk di siang hari seperti atmosfir khas pegunungan.

Namun jangan salah. Tingkat kesegaran udara dua kota ini jauh berbeda. Jika sebagian besar wilayah Bogor diselimuti kabut embun dengan udara segar dan sejuk, namun lain halnya dengan Pekanbaru. Udara yang di hirup warga Pekanbaru bisa mengancam kesehatan bahkan nyawa.

Sudah 18 tahun warga kota bertuah dan kabupaten lain di Riau diselimuti kabut asap yang bikin sesak bernafas. Kabut asap yang melanda Riau tahun ini adalah terparah melanda Riau selama 18 tahun terakhir. Kota-kota di Riau nyaris tenggelam ditelan kabut asap pekat. Selama dua pekan belakangan kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan semakin menjadi-jadi. Tak sedikit warga tererang sakit pernapasan dan beberapa orang dikabarkan meninggal karena menghirup asap.

Hal itulah yang membuat pemerintah Malaysia bertindak cepat mengevakuasi warganya yang belajar di Pekanbaru untuk dipulangkan. Sebelum asap berbahaya menyebabkan warga Malaysia menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA. 18 September lalu, melalui konsulatnya, Malaysia terpaksa memulangkan sebanyak 173 mahasiswanya di Riau karena kabut asap.

Pemulangan dilakukan dengan pesawat militer milik negeri jiran tersebut karena pendeknya jarang pandang tidak memungkinkan pesawat komersil untuk terbang . “Setelah melihat tak ada perubahan asap di Pekanbaru, mereka memilih pulang. Negara memfasilitasnya,” ungkap Hardi Hamdi seperti dilansir Liputan6.com.

Ayman, salah seorang mahasiswa Malaysia yang kuliah di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengatakan tindakan yang dilakukan pemerintahnya sudah tepat. Ia juga menyesalkan lambannya pemerintah Indonesia dalam menangani persoalan ini. “Pemerintah Indonesia macam tak peduli,” katanya saat kami hubungi melalui telepon genggam, Jumat (16-10-2015). Saat itu ia sedang ada pertemuan di Medan bersama mahasiswa Malaysia lainnya.

Ayman bercerita, ketika masih berada di Riau saat kabut asap sedang pekat-pekatnya, dirinya  ikut terkena dampak kabut asap. Ia lebih banyak tunak di dalam rumah menghindari asap. “Sesak napas. Teruk sangat,” katanya. Ia bersyukur ada inisiatif dari pemerintah negaranya untuk mengevakuasi warga Malaysia yang berada di Riau. “Walaupun Malaysia juga terkena asapnya tapi Malaysia sudah cepat mengambil keputusan yaitu dengan meliburkan sekolah,” katanya.

Pihak UIN Suska Riau sebenarnya sudah mengirim surat edaran berisi instruksi libur kuliah ke seluruh sivitas akademika selama tiga hari terkait kabut asap yang makin pekat. Sedangkan mahasiswa asal Malaysia dievakuasi hingga asap enyah dari bumi Lancang Kuning ini. Hal ini membuat Ayman dan mahasiswa Malaysia lainnya khawatir dengan studi mereka karena tidak bisa mengikuti perkuliahan. “Pemerintah Malaysia dan orangtua tak beri kami datang ke Indonesia. Mereka khawatir dengan kesehatan kami jika tetap lanjutkan kuliah di Riau,” keluhnya.

Kedutaan Malaysia sudah menyurati Riau terkait evakuasi mahasiswanya untuk batas  waktu yang tidak ditentukan. Namun dosen-dosen tak mau tahu soal itu. Tidak ada dispensasi diberikan. Noralinda, Kepala Bagian Kemahasiswaan UIN Suska Riau mengatakan, pihak UIN Suska tidak memberikan dispensasi untuk mahasiswa luar negeri yang tidak masuk kuliah karena proses perkuliahan tetap berlanjut seperti biasa. Soal dispensasi sepenuhnya menjadi urusan dosen. “ Tergantung dosennya,” katanya.
Ayman berharap pemerintah daerah Riau berkomitmen keras untuk mencegah bencana tahunan ini agar tidak terualang kembali. Persoalan kabut asap ini sangat berpengaruh terhadap efektivitas perkuliahan. Apalagi mahasiswa luar negeri yang terpaksa dievakuasi negara asalnyan demi kesehatan. Nilai mereka terancam anjlok karena tingginya angka ketidakhadiran kuliah. Ayman menambahkan, karena kabut asap ini empat orang mahasiswa  baru Malaysia yang kuliah di UIN Suska memutuskan berhenti karena sudah absen kuliah lebih dari sebulan.
Dosen UIN Suska Riau, Azar berpendapat tindakan pemerintah Malaysia mengevakuasi Mahasiswanya merupakan kebijakan suatu negara yang bersifat sepihak. Menurutnya pihak UIN Suska tidak perlu ikut meliburkan mahasiswanya untuk batas waktu yang tidak ditentukan seperti halnya Malaysia. “Kita kan di bawah Kemenag,” katanya.

Selanjutnya ia mengatakan, soal dispensasi mahasiswa luar negeri yang absen kuliah seharusnya memang menjadi wewenang dosen. Namun ia menilai kondisi ini akan berdampak terhadap minat masyarakat luar negeri untuk kuliah di Riau. Ia mengatakan jika masalah klasik ini belum juga dapat dicarikan solusinya oleh Pemerintah provinsi Riau, minat masyarakat luar negeri kuliah di Riau akan berkurang.

Tak hanya mahasiswa luar negeri yang mengeluh soal kabut asap ini. Mahasiswa daerah lain yang kuliah di UIN Suska Riau juga terkena imbasnya.  Mela Apriyani, mahasiswa UIN Suska Riau asal Sumatra Barat mengaku sempat terserang sesak nafas karena terhirup asap. Namun demikian ia tetap masuk kuliah seperti biasa karena kampus memang tidak mengeluarkan instruksi libur panjang. Pihak rektorat UIN Suska hanya meliburkan perkuliahan jika asap terlalu pekat “Sebenarnya saya khawatir karena sering libur. Akibatnya pelajaran yang seharusnya sudah selesai jadi tertunda. Sehingga kami mesti menambah jam tambahan,” ujarnya.

Mukhlis, mahasiswa UIN Suska asal Sumatra Utara juga merasa tidak nyaman menjalani perkuliahan karena terkendala asap. Namun ia tidak memilih balik kampung karena perkuliahan masih berjalan seperti biasa. “Lagipula sudah biasa menghirup asap,” ujarnya.

Semua kalangan berharap pemerintah Provinsi Riau bersikap tegas menindak pelaku pembakar hutan dan lahan di Riau. Pemerintah pusat juga harus lebih memperhatikan permasalahan tahunan ini agar tidak terulang kembali. Dan yang terpenting harus diberikan hukuman yang memberi efek jera terhadap pelaku pembakar lahan. Regulasi yang ada perlu direvisi dengan melibatkan banyak pihak. Karena ini menyangkut soal harapan hidup masyarakat Riau. Jangan biarkan masyarakat Riau mati massal di kemudian hari karena ulah oknum-oknum zolim yang memperkaya diri sendiri dan kelompok.

Read more ...
Designed By : Kelompok II